Tampilkan postingan dengan label selayang-pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selayang-pandang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Keseimbangan Alam

Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim.
Suasana sore hari yang mendung. Suhu yang mendingin di temaramnya sinar mentari yang berangsur undur diri. Angin pun semakin giat walaupun sesekali dengan malas menyapaku yang terduduk di loteng. Sebuah perubahan di alam ini yang sebelumnya berlimpahkan panas dan berangsur-angsur dingin menggerakkan sebentuk energi lain yang mengimbangi berkurangnya panas untuk menjaga energi kehidupan yang telah diciptakan seimbang.

Kamis, 21 Juni 2012

Wahai Cinta

wahai cinta,
sekian banyak yang menjernihkan artimu
tiada yang menemukan sosokmu
kecuali yang melihat batu adalah batu

wahai cinta,
sekian banyak yang mencobai rasamu
tiada yang dapat menyentuhmu
kecuali si kuda lesu di kalbu

wahai cinta,
sekian banyak yang mencari hadirmu
malahan tersesat sebelum bertemu
kecuali tersadar dari ilusi semu

duhai cinta,
begitu dekat sejatimu
tapi banyak pencarianmu hingga ujung waktu.

Rabu, 30 Mei 2012

Usaha Penyewaan Modem

Orang berusaha cari duit itu banyak jalannya tapi tentu saja yang halal. Yang tidak halal ya tidak usah dipikirkan, tidak berkah nanti hasilnya. Dalam perjalanan masuk dari drop zone bandara Ngurah rai ke bagian Keberangkatan Domestik, baru saja kutemukan sebuah usaha yang cukup menarik oleh sebuah kios kecil. Biasanya usaha penyewaan itu disesuaikan dengan tren yang ada sekarang. Semakin maraknya aplikasi-aplikasi social network disebut-sebut di berbagai media sepertinya menimbulkan kebutuhan baru dikalangan masyarakat terutama anak-anak muda, yaitu kebutuhan untuk eksis di dunia maya alias kebutuhan untuk online. Kios tersebut selain menjajakan dagangannya yang kebanyakan berupa makanan dan minuman ringan, juga menyewakan modem untuk online. Modem yang disewakan adalah modem USB yang sekarang ini dapat digunakan langsung pada laptop/notebook/netbook. Dengan lokasi kios yang cukup strategis di dekat area bangku-bangku untuk duduk, sepertinya menunjang usaha penyewaan tersebut. Mengingat sekarang sudah banyak beredar hape online yang murah-murah, apa usaha itu akan bertahan ya?

Sepertinya kemudahan-kemudahan akibat kemajuan teknologi bisa menimbulkan kebiasaan baru di masyarakat dan bisa menjadi peluang usaha. :)

Rabu, 04 Januari 2012

Berenang di Sungai Gangga

Tadi siang kutemukan sebuah artikel1 menarik berjudul 'Maqam orang menangis' yang menunjukkan tingkatan dalam menangis. Begitu kubaca judulnya, teringat ucapan kawanku sekitar 4-5 tahun lalu. Bagaikan berenang di sungai Gangga, itulah istilah yang digunakannya untuk menyebut sedang menangis. Kalo ga salah ingat dia menghubungkannya dengan perkara penyucian, mungkin menyucikan dari dosa mengingat keutamaan dari menangis itu sendiri.

Selasa, 20 Desember 2011

Ruang Gerak Hidup Selamat

Sekiranya banyak yang masih beranggapan bahwa setiap keberhasilan/keselamatan itu karena usahanya masing-masing,apakah itu benar? Jika demikian yang dianggap sebagian orang, bagi seorang muslim tentunya hal ini akan bertentangan dengan kalimat tauhid yang menjadi dasar ajaran Islam, laa ilaha ilalloh. Kalimat tersebut mempunyai makna, salah satunya adalah tiada apapun kecuali karena Alloh swt. Sehingga setiap keberhasilan manusia di alam ini tidak terlepas dari Alloh swt, Tuhan semesta alam.

Minggu, 18 Desember 2011

Cerita Sang Sopir Taksi

Akhir-akhir ini jadi punya kebiasaan baru, yaitu mendengarkan dan mengamati setiap sopir taksi yang mengantarkan saya dari Juanda ke rumah. Bukannya ada apa-apa tapi saya rasakan sangatlah menarik untuk mendengarkan komentar mereka terhadap apa yang mereka temui di jalanan.
Yang paling saya ingat adalah tiga orang sopir taksi yang berturut-turut mengantarkan saya pulang. Yang pertama adalah seorang sopir yang tiga waktu sebelumnya yang banyak menggerutu. Dari gerutuannya saya kira dia entah sedang tertipu oleh kawannya sehingga ordernya tidak seperti yang dia harapkan atau tidak begitu mendengarkan order yang datang kepadanya. Sebaiknya jangan ditiru orang seperti ini. Perjalanan ke rumah pun jadinya dingin sedingin air conditioner yang ada di taksi. Sedangkan yang kedua, memberikan kejutan tersendiri karena dia adalah seorang mantan kepala gudang dan juga mantan pengusaha. Kisahnya saya tuliskan di tulisan lain di blog ini.
Sedangkan yang semalam, saya kira merupakan orang yang terbuka. Dari cerita-ceritanya jadi tahu ternyata order dari seorang sopir taksi di bandara Juanda itu tiap harinya rata-rata 4 kali dan akan lebih rendah lagi ketika hujan turun yang berakibat sering terlambatnya pesawat atau malah tertunda hingga dini hari. Yang menarik dari pak sopir yang satu ini, adalah dia termasuk orang yang tertib lalu lintas (dibandingkan dengan sopir taksi lainnya yang pernah kutumpangi) dan ketika ada mobil lain (entah avanza atau xenia merah) yang melaju cepat dan jalannya tidak lurus alias mirip ular, dia mengomentari cara jalan mobil itu yang tidak tertib dan mengganggu lainnya di jalan. Dia menambahkan komentarnya perilaku si mobil merah itu merugikan pengguna jalan lain yang waktu itu kebanyakan motor. Karena bila terjadi senggolan si mobil merah itu yang meminta ganti rugi (saya kira itu berdasarkan pengalaman pak sopir). Selain itu rasa ingin tahu pak sopir juga lumayan besar. Ketika di sebuah pemberhentian lampu lalu lintas, dia menghentikan taksinya persis di sebelah si mobil merah dan langsung melihat ke samping yang disusul ucapannya, "Oh sopire cewek, karo-karone cewek". Dalam hati saya, "uwong iki iseng pisan hehe..." karena dia menghentikan taksinya persis di samping mobil merah walaupun di depannya masih ada ruang untuk satu mobil. Ini semakin menguatkan pemikiran bahwa orang yang punya banyak uang di negeri ini tidak lebih terdidik daripada yang tidak punya uang. Semakin banyak uang tentu potensinya merubah kehidupan/alam lebih besar daripada yang tidak punya. Apabila ini tidak diimbangi oleh pendidikan (bukan sekedar kepandaian) yang memadai tentunya akan berbahaya bagi kehidupan.
Selain itu dari pak sopir kudapatkan informasi yang menarik, yaitu tentang penjual durian yang baik bagi para pelanggannya. :D

Aesthetic

Longing for you day and in dream
I'm hoping you here and leading my way

You steers my road everytime I need
If you'll walk away I will follow you

Trying my life, with your secret gift you gave to me
I won't vain and succeed it as your precious soul

Holding your hand and I'm walking through the whole of the world
Carrying your wish like the Venus in the dim sky

Lagu di atas kudengar pertama kali ketika nonton drama Jepang yang berjudul Iryu Team Medical Dragon. Sekilas dari nada-nada harmonis yang mengalun sangat berkesan dalam ingatan. Kemudian dengan penasaran kucari videonya di youtube dan lebih terkesan lagi dengan liriknya :D

Aesthetic atau dalam bahasa Indonesia disebut estetis mempunyai makna menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu :
1. mengenai keindahan; menyangkut apresiasi keindahan (alam, seni, dan sastra); (adjektiva)
2. mempunyai penilaian thd keindahan (adjektiva).

Namun dalam persepsi tiap orang yang membacanya tentu saja akan beda-beda pemahaman yang dimunculkan. Bila dikaitkan dengan drama Iryu, biasanya lagu ini muncul ketika sebuah operasi terlepas dari kondisi yang mengancam nyawa pasien; yang sering disebabkan karena aksi sang tokoh utama Asada Ryutaro di meja operasi. Menurut saya sendiri lebih ke arah keindahan yang diselipkan Tuhan dalam setiap kejadian di alam ini. Dan ada yang berpendapat bahwa inti dari alam ini adalah cinta.

Ah ga perlu bingung juga dengan cinta dan alam, bukannya Tuhan juga mempunyai nama Ar-Rahman dimana cintanya terselip dengan lembut di setiap kejadian di alam ini. Hanya saja, apalah daya seorang manusia untuk merasakan kelembutan sang Tuhan yang menyelipkan keindahan di setiap kejadian. Subhanaka Ya Robbal 'alamin, Ar-Rohmanur Rohim, Al-Lathiful Khobir.

Minggu, 04 Desember 2011

Pembelajaran Tak Terduga

Nasihat untuk tidak melihat siapa yang mengucapkan melainkan apa yang diucapkan, kupikir benar adanya. Ini kualami sendiri seminggu lalu ketika naik taksi pulang dari Bandara Juanda selepas terbang dari Denpasar. Setelah landing di Juanda dan tidak ada barang di bagasi, seperti biasanya langsung menuju ke loket pemesanan taksi. Tak lama kemudian, aku sudah duduk santai di dalam taksi, di sebelah sopirnnya.

Seperti biasa, kuawali basa-basi dengan pak sopir sekedar ingin tahu cuaca Surabaya ketika kutinggalkan selama dua hari (hehehe... kayak pergi lama saja). Awalnya biasa saja dan dengan asumsi bahwa pak sopir itu sekedar sopir biasa, kukira obrolan hanya berlangsung sebentar saja. Entah bagaimana kemudian obrolan berlanjut ke cerita pak sopir tentang sebuah perusahaan keluarga, tentang kakak beradik yang memegang perusahaan masing-masing. Si kakak merupakan pengusaha yang pengalaman banyak sedangkan si adik adalah seseorang lulusan komunikasi visual di luar negeri. Dari segi perkembangan perusahaan, si kakak lebih berhasil daripada si adik yang memiliki ilmu pemasaran dari luar negeri. Bahkan juga diceritakan distribusi perusahaan si adik pernah ikut dalam sistem distribusi perusahaan si kakak. Cerita itu ditegaskan oleh pak sopir dengan mengatakan bahwa perilaku pasar di Indonesia dengan di luar negeri itu berbeda. Cerita dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa si kakak seringkali turun sendiri ke pasar untuk bertemu para pelanggan dan calon pelanggan untuk memasarkan produk-produknya. Si kakak seringkali turun ke pelanggan sekedar untuk beramah tamah. Sehingga terkadang para pemilik toko itu berinisiatif menawarkan produk-produk yang dibawa si kakak ke calon konsumen. Sedangkan si adik pernah menerapkan pemasaran yang bergantung dengan iklan yang tentunya menghabiskan investasi yang relatif besar, yang kemudian ternyata kurang berhasil. Cerita pak sopir itu membuatku berpikir apa gerangan hubungan pak sopir itu dengan kedua kakak-beradik itu. Ternyata kemudian diceritakan bahwa pak sopir itu dulunya adalah kepala gudang di perusahaan si kakak. Untuk cerita mengapa kemudian dari seorang kepala gudang menjadi seorang sopir taksi kukira tidak perlu diceritakan. :)

Hal yang menarik dari cerita pak sopir itu tadi adalah sikap sang kakak untuk memasarkan produk-produknya atau memperkuat sistem distribusinya. Dalam bisnis tentu tidak terlepas adanya rasa saling percaya. Si kakak yang memperlakukan para pemilik toko / pelanggannya secara sejajar dan tidak merendahkan. Dengan menghargai dan menghormati para pelanggannya, si kakak mempunyai pasukan pemasaran tambahan walaupun dengan investasi yang relatif kecil. Walaupun pasukan itu tidak jelas jumlahnya, minimal mereka yang membalas balik keramahtamahan si kakak, namun para pemilik toko itu lebih memahami pasar di lingkungan mereka. Selain itu juga dengan ikut mempromosikan barang dagangannya, para pemilik toko juga mendapatkan keuntungan. Sehingga tidak ada kerugian bagi si kakak maupun para pemilik toko.

Nah, dari mana rasanya saling percaya? Dari cerita di atas setidaknya adanya keramahtamahan yang merupakan bentuk dari penghargaan dan penghormatan untuk kebaikan bersama. Secara lebih luas lagi dengan saling menghargai dan menghormati sesama manusia (saling memanusiakan orang lain) untuk kebaikan bersama insyaAlloh menunjukkan hasil yang luar biasa. Dalam masyarakat muslim, setiap orang menjadi cermin bagi lainnya, saling memperbaiki untuk tercipta masyarakat yang madani. Dalam lingkup yang lebih kecil, dalam sebuah keluarga pun demikian dengan saling menghargai, menghormati, memperbaiki dan saling bertukar perbuatan baik lainnya untuk kebaikan bersama insyaAlloh tercapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah (hehehe... semoga tidak sekedar teori atau idealisme saja :D ).

Jumat, 04 November 2011

Belajar Dari Sun Tzu


Setiap literatur bisa diartikan sesuai dengan perspektif masing-masing pembacanya. Perspektif membawa pemikiran ke dalam kerangka berpikir tertentu yang bisa jadi berbeda bagi tiap-tiap orang. Andaikan ada yang bisa melihat berbagai perspektif tersebut, layaknya melihat suatu benda dari sisi-sisi yang berbeda. Mungkin ada yang bilang seperti pada posisi vantage point terhadap benda tersebut. Atau layaknya melihat seekor gajah secara keseluruhan tidak seperti orang buta yang mencoba mengenal gajah.

Berikut adalah 5 faktor dalam penyusunan strategi menurut Sun Tzu dalam seni perang :
The MORAL LAW causes the people to be in complete accord with their ruler, so that they will follow him regardless of their lives, undismayed by any danger.
HEAVEN signifies night and day, cold and heat, times and seasons.
EARTH comprises distances, great and small; danger and security; open ground and narrow passes; the chances of life and death.
The COMMANDER stands for the virtues of wisdom, sincerity, benevolence, courage and strictness.
By METHOD AND DISCIPLINE are to be understood the marshaling of the army in its proper subdivisions, the graduations of rank among the officers, the maintenance of roads by which supplies may reach the army, and the control of military expenditure.

Menurutku dalam sebuah perspektif, kelima kalimat di atas menjadi kalimat-kalimat di bawah ini :
Pemimpin dengan tujuan dan kerangka moral yang baik akan diikuti tanpa menghiraukan nyawa dan bahaya.
Langit atau apapun yang tak berbentuk namun memberikan arti, janganlah tidak engkau hiraukan.
Bumi atau apapun yang terlihat bentuknya jangan malah dilupakan. Hanya orang bodoh yang tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Kepemimpinan itu mewujudkan kebijaksanaan, ketulusan, dan kebajikan dengan disertai keberanian dan ketegasan dalam bersikap untuk mencapai tujuannya.
Dengan pengelolaan (metode dan disiplin) yang baik, tujuan (niat) yang baik bisa tercapai.
Sesuatu yang kukira lebih mengarah ke kepemimpinan daripada penyusunan strategi untuk berperang. Secara alamiah seorang manusia mempunyai bakat kepemimpinan, minimal kepemimpinan untuk dirinya sendiri. Seperti yang pernah diberitahukan bahwa manusia adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Sehingga tidak lah salah bila seorang pemimpin yang baik pastilah seorang manusia yang baik pula. Entah menurut orang lain. Bahkan pemahaman yang diperoleh ketika membaca 5 kalimat-kalimat Sun Tzu di atas bisa berbeda karena setiap orang bisa saja memiliki perspektif yang berbeda. Jadi bagaimana menurutmu?

Sabtu, 22 Oktober 2011

Tujuan dan Perjalanannya

Tidaklah mengenal gunung tertinggi kecuali telah naik tinggi
Tidaklah mengenal laut terdalam kecuali telah menyelam dalam
Tidaklah mengenal keindahannya kecuali engkau dekat
Ketiga baris kalimat di atas memang sekilas tidak menampakkan adanya tujuan maupun sebuah perjalanan. Tetapi bagi seseorang yang mempunyai cita-cita atau mimpi atau keinginan, seperti seorang musashi*, seorang pelajar, seorang pecinta, seorang pengusaha, seorang kepala keluarga, seorang pemimpin, atau yang lainnya dari seorang manusia, menginginkan untuk sampai kepada sesuatu hal baik yang diinginkan. Puncak tertinggi atau pun lautan terdalam layaknya sebuah tujuan atau keinginan yang memerlukan sebuah usaha pencapaian, sebuah perjalanan.
Duhai engkau yang menapak jalan
Susah senang tetap teruskan
Sekarang dan nanti akan ada balasan
Dalam menempuh sebuah perjalanan tidak diragukan lagi akan ada rintangan dan hambatan. Tuhan yang mengetahui niat dan tujuan merahmati sebuah perjalanan dengan kesempitan dan kelapangan agar tidak ada rasa bosan atau bahkan kejenuhan. Ketika merasakan kesempitan dalam perjalanan, ditunjukkannya kelapangan yang lainnya untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. Para pemudik, para pendaki gunung, atau yang lainnya begitu mudahnya menemukan sebuah keindahan ketika sedang beristirahat dari perjalanannya. Coba bayangkan mudik dengan terus-terusan fokus di perjalanan tentunya akan punah energi, bisa menimbulkan kecelakaan dan akhirnya malah tidak sampai ke tujuan.

Tentunya keindahan yang ditunjukkan di sela-sela perjalanan bukanlah yang dituju melainkan sebagai penghibur yang menguatkan di perjalanan. Ketika seseorang berada di puncak gunung, insyaAlloh akan mendapati sebuah keindahan yang tidak ditemukan di lereng gunung apalagi di kaki gunung. Bagaikan berada di negeri di awan, sebuah pemandangan yang keindahannya menjadi motivasi sebagian besar para pendaki gunung. Dari puncak gunung tersebut juga diperlihatkan adanya gunung lain yang lebih tinggi. Sebuah titik yang lebih tinggi, keindahan yang lebih tinggi pada tujuan yang sama. Yang masih berpegang pada tujuannya tentunya akan melanjutkan perjalanannya. Bahkan Rasululloh SAW, menyontohkan untuk selalu meraih yang lebih baik dalam pencapaian sebuah tujuan setiap harinya.

Keindahan yang tak tertandingi tentu ada di ujung perjalanan. Hanya dengan mendekati tujuan sajalah keindahan itu bisa dirasakan. Seperti epilog Charlie dalam film The Italian Job, "Stella was right.  It wasn't about the money, of course it doesn't stop the guys to have a little bit of fun". Bukan masalah pencapaian puncak tertinggi atau lautan terdalam tetapi keindahan di sana. Bukan pula tentang kekayaan yang bakal diraih melainkan kepuasan mengeluarkan potensi jadi pemimpin/pengusaha. Bukan pula tentang sampai ke surga tetapi meraih ridho Ilahi walaupun akhirnya bisa menikmati surga karena itu.

* Musashi Miyamoto adalah tokoh sejarah Jepang yang hidup antara legenda dan kenyataan. Dia juga muncul dalam bentuk novel berjudul Musashi karya Eiji Yoshikawa.

Senin, 17 Oktober 2011

Dzikir

Ketika,
Burung berkicau mengingat-Nya
Gunung tegak menyucikan-Nya
Ikan berenang memuja-Nya
Angin berhembus mematuhi-Nya.

Seharusnya sama,
Pemimpin dengan kebijakannya
Rakyat dengan kerakyatannya
Guru dengan pengajarannya
Murid dengan pembelajarannya
Pemusik dengan nada-nada harmonisnya
Tukang dengan rancang-bangunnya
Pekerja dengan pekerjaannya
Manusia dengan kemanusiaannya

Bagaimana denganmu?

Senin, 10 Oktober 2011

Genjutsu

Ilusi,
Mengalihkan diri dari kebenaran
Memberikan kenyataan sebatas semu
Dicapai pun jadinya sia-sia

Mengetahui,
Salah satu kunci menghindarinya
Dilatih menjadi sebuah sikap
Menajamkan kesadaran untuk terjaga

Belajar, tidak akhirnya jadi tahu
Sesungguhnya malah menjadi tidak tahu

Pengajaran, tidak akhirnya pun memahamkan
Melainkan hanyalah memberi tahu dan mengingatkan

Kemandirian, tidak akhirnya semuanya bisa sendiri
Sejatinya bisa justru karena tidak sendiri

Minggu, 09 Oktober 2011

Naik Kereta Api ... tut...tut...tuut...

Naik kereta akhir-akhir ini jadi lebih nyaman rasanya. Tulisan ini pun dibuat sambil bersila di kursi sambil menikmati pemandangan pegunungan di sore hari dan ditemani biskuit dan minuman isotonik favorit. Bahkan sebelumnya tidak kurasakan kenyamanan ini ketika naik kereta bisnis.

Semenjak diberlakukannya tidak ada tiket berdiri, tingkat kenyamanan di kereta bisnis jadi meningkat. Secara fisis, dengan jumlah penumpang maksimum per gerbong dapat diprediksi tentunya akan lebih mudah untuk mencapai tingkat kenyamanan termal secara desain dan penerapannya. Selain itu kebutuhan ruang untuk bergerak lebih bisa terpenuhi dan setiap penumpang pun tidak perlu berebut oksigen dengan penumpang lain.

Kukira pengaruhnya tidak hanya di kereta bisnis tetapi juga dirasakan di kereta ekonomi. Tadi sebelum naik, sempat ngobrol dengan seorang bapak pensiunan yang bepergian bersama keluarganya dengan kereta ekonomi dari Kutoarjo menuju Padalarang dan sedang transit di Kiara Condong. Beliau menceritakan bahwa beliau merasa nyaman dengan perjalanannya dengan hanya tersedia tiket duduk. Tidak ada lagi orang yang ber-usel-usel-an di kereta api layaknya ikan pindang. Tapi beliau juga menceritakan kompensasinya bahwa tidak lagi dengan mudah mendapatkan tiket kereta. Beliau berpikiran harus memesan 2 hari sebelumnya untuk mendapatkan tiket tersebut. Beliau mendapatkan tiket buat dirinya dan keluarganya melalui calo.
Dirasakan memang untuk sebuah perbaikan perlu ada kompensasi. Tapi kompensasi pun sebaiknya tidak dirasakan membebani konsumen. Antrian yang panjang dan tidak mudahnya untuk mendapatkan tiket langsung adalah salah satu akibat langsungnya. Permasalahan itu perlu disikapi dengan bijak agar tidak timbul hal-hal yang malah merugikan konsumen seperti lahirnya calo-calo tiket yang menarik tarif lebih tinggi bahkan 2 kali lipat seperti yang dialami bapak pensiunan itu. Penerapan sistem pelayanan tiket yang memudahkan konsumen wajib rasanya untuk tindak lanjut kebijakan sekarang ini.

Kukira tidak adanya tiket berdiri ini merupakan kebijakan yang baik yang perlu ditegakkan di semua operasional kereta api di Indonesia. Tapi kukira masih belum semuanya karena masih saja terjadi "pemindangan penumpang" untuk beberapa kereta KRD yang sempat kulihat sendiri.



Sudah selayaknya bangsa ini mendapatkan layanan masyarakat yang memanusiakan bangsa ini. Andaikan ini terlaksana di semua lini layanan masyarakat, kukira tidak ada lagi pencaplokan wilayah oleh negara tetangga.

Selasa, 04 Oktober 2011

Antara Sun Tzu, Eisenhower dan 'Amal

Isuk-isuk pas srengenge isih ketok abang, ono wong loro celukane cak Dul karo cak Din lagi cangkruk nang ngarep omah.
Cak Dul    : Sing apik iku opo-opo kudu direncanakno...
Cak Din    : (langsung nyaut) iyo, jarene mbah Sun Tzu malah dibagi limang perkoro.
(Cak Dul karo ngowoh rodo kaget, ndeloki ae koncone ngomong...)
Cak Din    : Yoiku, moral, langit, bumi, komandane, karo metode lan disiplin. Moral iku  
                    gampange iso dihubungno karo semangat. Langit iku hubungane karo
                    waktune. Nek bumi iku iso dianggep panggonane kegiatan iku mau. La
                    komandane yo jelas kemampuane wonge sing arep nglakoni sing
                    disesuaikno pisan karo metodene, piye cara nglakonine sing apik ben kasil.
Cak Dul    : La terus, hubungane karo rencana iku piye?
Cak Din    : Yo nggawe rencana iku disesuaikno karo limang perkoro mau.
Cak Dul    : O.. ngunu ta? Kok ribet ngunu koyoke. Sing penting se aku eruh sing tak
                     karepno, carane nggayuh terus moco basmalah karo tawakkal. Wes ngunu
                     ae. Jarene mbah Eisenhower, "In preparing for battle I have always found
                     that plans are useless, but planning is indispensable."
Cak Din    : Yo podo ae iku. Jare mbah Sun Tzu, terusane iku " manut situasi sing ono,
                     rencana iku kudu diubah"
Cak Dul    : Sip nek ngunu... iso digawe iku carane.
Cak Din    : Ayo... wes wayahe makaryo iki...

Senin, 26 September 2011

Bergerak

Berawal dari mendengarkan cerita seorang kawan dekat, terangkai kata-kata yang awalnya menggambarkan cerita tersebut. Eh... setelah dibaca-baca ternyata bisa ditafsirkan atau dianalogikan ke banyak hal cerita-cerita lain yang pernah ku dengar. Silahkan dibaca di bawah :)

Tarian ombak yang menghempas terkadang tak kuasa diikuti,
Ke dasar laut sebaiknya berada.
Kedalaman dasar laut yang menenangkan dirasa menidurkan,
Waktunya menari di antara ombak dan badai.

Rabu, 21 September 2011

Sesuatu yang indah

Keindahan itu terasa abadi
Dalam benderang cahaya mentari
Maupun kerlap-kerlip bintang malam hari
Hanyalah perlu menyadari

Segala sesuatu itu pastilah tercipta indah. Karena Sang Pencipta menyukai yang indah-indah. Mengapa terkadang sesuatu itu dirasa buruk, menyusahkan bahkan bagaikan mimpi buruk? Adakah yang menghalangi pandangan fitrah manusia akan keindahan? Kukira jawabannya ada di jalan menuju fitrah. Silahkan dicari dalam diri :)

Jumat, 16 September 2011

Visi atau cita-cita?

Apa itu sebenarnya visi, yang seringkali di dengar ketika sedang diadakan pemilhan seseorang untuk mengisi jabatan tertentu? Ada yang mengatakan itu sebagai sebuah pandangan kedepan atas apa yang sedang dihadapinya sekarang. Apa jadinya bila visi itu ada? Ada yang bilang bisa dengan mudah menjabarkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan visi tersebut. Terus apa bedanya dengan cita-cita? Kukira tidak ada bedanya. :)

Adanya visi atau cita-cita, tentu akan membuat hidup jadi lebih terarah. Seperti pada saat naik gunung, walaupun tidak tahu pasti rute yang ditempuh tetapi sudah jelas tujuannya adalah puncak gunung. Tentu tidak hanya butuh sekedar tahu kejelasan visi tetapi juga perlu pengetahuan tambahan untuk dapat menwujudkan visi tersebut. Seperti nasihat "ilmu dulu sebelum bertindak dan berkata". Dengan demikian pencapaian visi tersebut akan lebih mudah.

Bagaimana tidak lebih mudah? Melakukan sesuatu secara sistemik akan lebih mudah daripada asal tambal-sulam. Adanya kejelasan visi akan lebih memudahkan untuk membuat sebuah rangkaian kerja yang sistemik sehingga apabila visi tersebut tidak akan tercapai ketika umur kita sudah selesai, visi tersebut bisa diwariskan dengan mudah ke orang lain atau generasi penerus. Hehehe... jadi teringat lagunya Dreamtheater yang berjudul "The Spirit Carrries On".

If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

Apabila pencapaian tersebut dilakukan asal mengerjakan saja dengan tambal sulam, rasanya seperti orang buta yang berlari menuju sumber suara. Tidak tahu apa yang menghadang, apakah tembok ataukah jurang. Sehingga apabila diwariskan ke orang lain atau generasi penerus, akan dimulai dari titik awal pengerjaan bukannya pada saat titik ketika diwariskan. Bukankah ini hanya buang-buang waktu? Bagi umat muslim ini adalah aib bukan? Karena sudah dianjurkan untuk lebih baik dari hari kemarin oleh Rasululloh SAW.

So, are you visioner enough? Semoga jadi lebih baik setiap hari untuk masa depan yang baik. :)

Jumat, 02 September 2011

Mudik

Menjalin silaturahim merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam ajaran islam, kukira malah terkesan wajib. Mengapa? Karena selain diperintahkan dalam Al-Qur’an (4:1) juga disebutkan dalam hadits yang berbunyi “Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan (sebagian sumber menyebut “diluaskan”) rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi)”. Selain kedua referensi tersebut masih ada beberapa referensi yang silahkan bisa digugel sendiri. Smile

Nah, kita kan baru saja merayakan hari raya Idul Fitri 1432 H. Tentunya tidak lupa dengan tradisi bangsa kita, Indonesia, untuk mudik ke kampung halaman. Mudik ini biasanya dilandasi dengan rasa ingin bertemu dengan orang tua di kampung halaman. Selain itu juga bertemu kerabat-kerabat di kampung. Bagi sebagian keluarga dibarengi dengan pertemuan keluarga yang diikuti oleh seabreg anggota keluarga, kakek, nenek, pakde, bude, paklik, bulik, om, tante, kakak, adik serta tidak jarang ikut pula keponakan-keponakan yang sering bikin rame suasana. Terkadang juga dilanjutkan dengan acara pertemuan keluarga lain jalur atau keliling mengunjungi kerabat-kerabat yang lain.

Bagi sebagian orang tentu kurang beruntung untuk tidak bisa mudik pas lebaran karena kendala transportasi atau lain hal. Tetapi yang patut disayangkan adalah yang merasa mudik adalah sebuah beban. Pengalaman pribadi untuk lebaran tahun ini, walaupun acara pertemuan keluarga yang biasa-biasa saja dan ga jauh beda dengan yang kemarin-kemarin ada beberapa manfaat, bisa dikatakan rejeki juga, seperti bisa menyicipi aneka kuliner yang dibawa oleh saudara. Ada masakan ikan wader dengan irisan petai dan kulitnya dari Padang yang aku lupa namanya  atau lele bakar yang diracik sendiri oleh saudara yang buka usaha kuliner di Cilacap, atau rengginang lorjuk yang dibawa dari tanah Madura, dan tidak lupa kuliner khas Jombang, soto dok selain masakan lainnya. Smile Nah itu adalah sebuah kenikmatan bisa makan beraneka ragam kuliner Indonesia di satu tempat. Selain itu juga bisa mendapatkan sedikit pengetahuan tentang pijat refleksi yang semoga saja manjur dipraktekkan ketika mendapat gangguan kesehatan ringan, seperti batuk, pilek, pusing dan gejala flu lainnya. Apa cuma itu saja kegunaan pijat refleksi? Tentu tidak, itu saja yang disebutkan karena sering diderita hehe…

Silaturahim tidak melulu dengan keluarga, tapi juga dengan tetangga-tetangga sebelah atau mereka yang dituakan di kampung. Misalnya berkunjung ke seorang kyai, apabila beruntung bisa mendapat wejangan/nasihat atau malah pengetahuan baru atau didoakan selain kue-kue yang disuguhkan bila ada. Nah itu hanya sebagian dari rejeki yang kurasakan kemarin, kalo ada yang lainnya wallohu a’lam. Smile

Rabu, 17 Agustus 2011

Membaca…

Membaca adalah aktivitas yang seharusnya sangat wajar dilakukan sebagai seorang manusia bahkan merupakan sebuah pekerjaan yang sangat penting. Karena baik dilakukan pada saat sebelum memulai sebuah pekerjaan, ketika sedang mengerjakan sebuah pekerjaan ataupun ketika sudah menyelesaikan sebuah pekerjaan. Sebagai sesuatu yang wajar lebih karena kebutuhan manusia untuk bisa bertahan hidup yang secara tidak sadar berusaha mengetahui lingkungannya.

Ceritanya berusaha utak-atik spica kok rasa-rasanya jadi lambat. Samdroid pun dijelajahi. Di sebuah thread yang berjudul “Relocate dalvik-cache to free up space” ditemukan masalah yang sama sekaligus solusinya. Dan untuk solusi tersebut, caranya melalui recovery zip yang seharusnya termasuk dalam kernel LK2.xx yang sudah ku-flash waktu nge-root. Tapi berhubung waktu nge-root kemarin belum muncul apps samdroid tool, jadinya agak bingung untuk merealisasikan solusi tadi. Setelah ubek-ubek beberapa waktu akhirnya ketemu dan sebenarnya pernah dibaca di sini. Yaitu dengan menekan “VolumeDown+Call+EndCall” pada saat handphone mati. Jadi pelajaran hari ini : “kalo membaca jangan terburu-buru”. Kalo menurut istilah tadarus, bacalah dengan tartil hehehe…mekso…

Kembali ke konteks membaca. Membaca seharusnya jadi aktivitas sebelum aktivitas lainnya. Yah membaca basmalah itu juga termasuk Smile. Seorang muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu tuntunan untuk hidup, semestinya paham bahwa membaca itu sangat penting karena ayat pertama yang turun adalah “Iqro” yang berarti “Bacalah”. Wah belum apa-apa sudah disuruh membaca. Nah berarti sudah ditunjukkan bahwa membaca itu aktivitas yang memang penting. Yang kemudian dilanjutkan dengan ayat yang artinya “Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ketika membaca sebaiknya mengingat sang Tuhan yang telah menciptakan. Apa yang dibaca? Imho, dari ayat kedua itu sudah ditunjukkan bahan bacaan pertama, yaitu Tuhan yang menciptakan. Tentunya bukan membaca Tuhan yang pengetahuan manusia bersumber padaNya, melainkan mengetahui adanya Tuhan dan mengenalnya melalui ciptaanNya, baik di bumi dan di langit serta apa yang ada di antaranya. Secara kasar, kukira ilmu alam juga termasuk. Dan ayat selanjutnya mempunyai arti “Yang menciptakan manusia dari segumpal darah”. Kukira tidak menyalahi tafsir yang sudah ada jika menyebut ayat ini sebagai bahan bacaan selanjutnya yang memberikan topik tentang manusia dan asal-usulnya. Yang terakhir ini kukira lebih ke arah ilmu medis dan humaniora. Nah bila melihat dari tiga ayat tersebut, bisa dikatakan bahwa dalam kehidupannya manusia ditunjukkan untuk membaca (dibaca : mempelajari) ciptaan Sang Kholik untuk mengingat dan mengenalNya. (Untuk bagian ini bila ada salah kalimat atau pengertian, mohon koreksinya untuk menambah pengetahuan yang ala kadarnya ini).

Membaca, selain sebagai sarana untuk menuntut ilmu dan menambah wawasan (seseorang bisa menjelajah bumi, menyelami lautan dan mengarungi angkasa melalui sebuah buku), dalam konteks lain bisa juga sebagai sarana untuk memperbaiki diri atau dalam bahasa kerennya disebut feedback. Misalnya dalam sebuah sistem kendali, sebuah proses dibaca untuk diumpankan balik untuk dibandingkan dengan tujuan proses sehingga bisa diambil tindakan yang dapat mendekatkan kepada tujuan. Wah TF-nya keluar hehe.. Ya memang demikian secara umum. Untuk hal-hal yang lain kukira cuma istilahnya saja yang beda tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalkan dalam pembawaan diri tentunya dengan membaca situasi kita bisa menjauhkan sikap-sikap yang dzolim baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Dalam rangka peringatan Kemerdekaan RI yang ke-66 ini tentunya kita sebagai warga negara juga perlu membaca, dalam hal ini kondisi negara Indonesia. Apakah sudah semakin mendekati tujuan negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dan apakah proses bernegara sudah berlangsung sesuai dengan Pancasila? Yang hasil dari membaca bisa kita gunakan untuk mengambil langkah ke masa depan yang lebih baik. Nah membaca itu sangat penting dan banyak manfaatnya bukan ? Open-mouthed smile

Jadi, selamat membaca!

Rabu, 10 Agustus 2011

Langkah Pada Setiap Ide

Segala sesuatu yang serba terlalu memang tidak baik. Bahkan yang halal pun jadi haram. Bukankah sang Teladan juga menganjurkan untuk memilih jalan tengah, sesuatu yang cukup yang tidak kekurangan atau pun kelebihan?

Pencarian ide-ide pun sebaiknya juga tidak berlebihan, jika tidak mampu untuk mendapatkan hanya satu buatlah dua saja atau tiga setidaknya itu bisa menyibukkan pikiran untuk memikirkan lebih mendalam masing-masing ide yang telah didapatkan. Wah bercanda ya? Untuk mendapatkan satu saja bisa sampai jungkir balik, lha kok dua atau tiga ide. Tidaklah sulit jika kita membiarkan pikiran kita bekerja tanpa dibatasi. InsyaAlloh mendapatkan sejuta ide untuk satu permasalahan. Baru kemudian buah-buah pikiran tersebut disaring dengan kenyataan yang ada. Mudah bukan? hehehe.

Tentunya ide-ide yang telah didapatkan adalah akibat dari adanya sebuah pergerakan dari titik awal atau kondisi awal menuju sebuah tujuan yang hendak dicapai/diraih. Oleh karena itu keberhasilan tiap ide belum dapat diketahui dengan pasti kecuali dengan melangkah menjalankan ide-ide tersebut. Mendalami setiap ide adalah cara untuk mengetahui keberhasilan ide tersebut. Melangkahlah dengan pasti dan fokus. Selain menghindarkan dari terpeleset, tergelincir dan kawan-kawannya, jawaban akan keberhasilan ide tersebut akan semakin tampak. Semakin jauh melangkah akan semakin tampak kebenaran dari ide tersebut. "Shinjitsu wa itsumo hitotsu!" yang sering diucapkan Conan alias Shinichi dalam serial Detective Conan berarti kebenaran hanyalah satu. Ya, ide tersebut berhasil atau tidak, akan semakin ketahuan dalam setiap langkah. Jika memang gagal mencapai tujuan, tidak perlu malu untuk kembali ke titik awal dimana ide-ide terkumpul dan melaksanakan ide lain yang insyaAlloh menjadi jalan tercapainya sebuah tujuan.

Cerita di atas mengingatkan pada sebuah memori ketika mendaki sebuah bukit di malam gelap sendirian hanya ditemani bulan dan rasi-rasi bintang. Detil ceritanya bisa dilihat di sini ya. Pada perjalanan tersebut, melangkah hanya berdasarkan jejak-jejak kaki atau bekas rumput terinjak yang terlihat oleh lampu senter. DI suatu tempat, jejak-jejak tersebut terpecah dua. Yang manakah yang akan sampai ke puncak, yang lurus ataukah yang belok masuk ke hutan? Sementara puncak pun tidak terlihat. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diteruskan langkah mengikuti jejak yang terus lurus. Mengikuti jejak yang lurus itu, sampailah pada sebuah tanjakan yang lebih gelap dan akhirnya jejak kaki sudah tidak terlihat lagi. Kemudian diputuskan untuk kembali ke persimpangan tadi dan mengikuti jejak yang berbelok menuju hutan. Ternyata jalur yang menuju hutan itulah yang menuntunku sampai ke puncak.