Tidaklah mengenal gunung tertinggi kecuali telah naik tinggiKetiga baris kalimat di atas memang sekilas tidak menampakkan adanya tujuan maupun sebuah perjalanan. Tetapi bagi seseorang yang mempunyai cita-cita atau mimpi atau keinginan, seperti seorang musashi*, seorang pelajar, seorang pecinta, seorang pengusaha, seorang kepala keluarga, seorang pemimpin, atau yang lainnya dari seorang manusia, menginginkan untuk sampai kepada sesuatu hal baik yang diinginkan. Puncak tertinggi atau pun lautan terdalam layaknya sebuah tujuan atau keinginan yang memerlukan sebuah usaha pencapaian, sebuah perjalanan.
Tidaklah mengenal laut terdalam kecuali telah menyelam dalam
Tidaklah mengenal keindahannya kecuali engkau dekat
Duhai engkau yang menapak jalanDalam menempuh sebuah perjalanan tidak diragukan lagi akan ada rintangan dan hambatan. Tuhan yang mengetahui niat dan tujuan merahmati sebuah perjalanan dengan kesempitan dan kelapangan agar tidak ada rasa bosan atau bahkan kejenuhan. Ketika merasakan kesempitan dalam perjalanan, ditunjukkannya kelapangan yang lainnya untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. Para pemudik, para pendaki gunung, atau yang lainnya begitu mudahnya menemukan sebuah keindahan ketika sedang beristirahat dari perjalanannya. Coba bayangkan mudik dengan terus-terusan fokus di perjalanan tentunya akan punah energi, bisa menimbulkan kecelakaan dan akhirnya malah tidak sampai ke tujuan.
Susah senang tetap teruskan
Sekarang dan nanti akan ada balasan
Tentunya keindahan yang ditunjukkan di sela-sela perjalanan bukanlah yang dituju melainkan sebagai penghibur yang menguatkan di perjalanan. Ketika seseorang berada di puncak gunung, insyaAlloh akan mendapati sebuah keindahan yang tidak ditemukan di lereng gunung apalagi di kaki gunung. Bagaikan berada di negeri di awan, sebuah pemandangan yang keindahannya menjadi motivasi sebagian besar para pendaki gunung. Dari puncak gunung tersebut juga diperlihatkan adanya gunung lain yang lebih tinggi. Sebuah titik yang lebih tinggi, keindahan yang lebih tinggi pada tujuan yang sama. Yang masih berpegang pada tujuannya tentunya akan melanjutkan perjalanannya. Bahkan Rasululloh SAW, menyontohkan untuk selalu meraih yang lebih baik dalam pencapaian sebuah tujuan setiap harinya.
Keindahan yang tak tertandingi tentu ada di ujung perjalanan. Hanya dengan mendekati tujuan sajalah keindahan itu bisa dirasakan. Seperti epilog Charlie dalam film The Italian Job, "Stella was right. It wasn't about the money, of course it doesn't stop the guys to have a little bit of fun". Bukan masalah pencapaian puncak tertinggi atau lautan terdalam tetapi keindahan di sana. Bukan pula tentang kekayaan yang bakal diraih melainkan kepuasan mengeluarkan potensi jadi pemimpin/pengusaha. Bukan pula tentang sampai ke surga tetapi meraih ridho Ilahi walaupun akhirnya bisa menikmati surga karena itu.
* Musashi Miyamoto adalah tokoh sejarah Jepang yang hidup antara legenda dan kenyataan. Dia juga muncul dalam bentuk novel berjudul Musashi karya Eiji Yoshikawa.

0 comments:
Posting Komentar