Minggu, 04 Desember 2011

Pembelajaran Tak Terduga

Nasihat untuk tidak melihat siapa yang mengucapkan melainkan apa yang diucapkan, kupikir benar adanya. Ini kualami sendiri seminggu lalu ketika naik taksi pulang dari Bandara Juanda selepas terbang dari Denpasar. Setelah landing di Juanda dan tidak ada barang di bagasi, seperti biasanya langsung menuju ke loket pemesanan taksi. Tak lama kemudian, aku sudah duduk santai di dalam taksi, di sebelah sopirnnya.

Seperti biasa, kuawali basa-basi dengan pak sopir sekedar ingin tahu cuaca Surabaya ketika kutinggalkan selama dua hari (hehehe... kayak pergi lama saja). Awalnya biasa saja dan dengan asumsi bahwa pak sopir itu sekedar sopir biasa, kukira obrolan hanya berlangsung sebentar saja. Entah bagaimana kemudian obrolan berlanjut ke cerita pak sopir tentang sebuah perusahaan keluarga, tentang kakak beradik yang memegang perusahaan masing-masing. Si kakak merupakan pengusaha yang pengalaman banyak sedangkan si adik adalah seseorang lulusan komunikasi visual di luar negeri. Dari segi perkembangan perusahaan, si kakak lebih berhasil daripada si adik yang memiliki ilmu pemasaran dari luar negeri. Bahkan juga diceritakan distribusi perusahaan si adik pernah ikut dalam sistem distribusi perusahaan si kakak. Cerita itu ditegaskan oleh pak sopir dengan mengatakan bahwa perilaku pasar di Indonesia dengan di luar negeri itu berbeda. Cerita dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa si kakak seringkali turun sendiri ke pasar untuk bertemu para pelanggan dan calon pelanggan untuk memasarkan produk-produknya. Si kakak seringkali turun ke pelanggan sekedar untuk beramah tamah. Sehingga terkadang para pemilik toko itu berinisiatif menawarkan produk-produk yang dibawa si kakak ke calon konsumen. Sedangkan si adik pernah menerapkan pemasaran yang bergantung dengan iklan yang tentunya menghabiskan investasi yang relatif besar, yang kemudian ternyata kurang berhasil. Cerita pak sopir itu membuatku berpikir apa gerangan hubungan pak sopir itu dengan kedua kakak-beradik itu. Ternyata kemudian diceritakan bahwa pak sopir itu dulunya adalah kepala gudang di perusahaan si kakak. Untuk cerita mengapa kemudian dari seorang kepala gudang menjadi seorang sopir taksi kukira tidak perlu diceritakan. :)

Hal yang menarik dari cerita pak sopir itu tadi adalah sikap sang kakak untuk memasarkan produk-produknya atau memperkuat sistem distribusinya. Dalam bisnis tentu tidak terlepas adanya rasa saling percaya. Si kakak yang memperlakukan para pemilik toko / pelanggannya secara sejajar dan tidak merendahkan. Dengan menghargai dan menghormati para pelanggannya, si kakak mempunyai pasukan pemasaran tambahan walaupun dengan investasi yang relatif kecil. Walaupun pasukan itu tidak jelas jumlahnya, minimal mereka yang membalas balik keramahtamahan si kakak, namun para pemilik toko itu lebih memahami pasar di lingkungan mereka. Selain itu juga dengan ikut mempromosikan barang dagangannya, para pemilik toko juga mendapatkan keuntungan. Sehingga tidak ada kerugian bagi si kakak maupun para pemilik toko.

Nah, dari mana rasanya saling percaya? Dari cerita di atas setidaknya adanya keramahtamahan yang merupakan bentuk dari penghargaan dan penghormatan untuk kebaikan bersama. Secara lebih luas lagi dengan saling menghargai dan menghormati sesama manusia (saling memanusiakan orang lain) untuk kebaikan bersama insyaAlloh menunjukkan hasil yang luar biasa. Dalam masyarakat muslim, setiap orang menjadi cermin bagi lainnya, saling memperbaiki untuk tercipta masyarakat yang madani. Dalam lingkup yang lebih kecil, dalam sebuah keluarga pun demikian dengan saling menghargai, menghormati, memperbaiki dan saling bertukar perbuatan baik lainnya untuk kebaikan bersama insyaAlloh tercapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah (hehehe... semoga tidak sekedar teori atau idealisme saja :D ).

0 comments: